kado ulang tahun buat ibu

“WAKTU ngelahirin saya, susah gak sih, Mie?” itu pertanyaan favorit yang sering saya lontarkan ke ibu saat leyeh-leyeh di masa kecil dulu. Ibu, yang saya sapa Mamie itu, biasanya lantas bercerita antusias tentang proses kelahiran saya. Tentu, komplet dengan kisah proses persalinan kakak dan adik saya.

 

Dibandingkan saudara saya yang lain, kabarnya, kelahiran saya yang termudah. Dua kakak saya semua lahir di rumah sakit – di bawah pengawasan dokter kebidanan. Saya sendiri lahir di rumah. Dengan proses yang begitu cepat, tanpa bantuan paramedis, dan tanpa membuat ibu saya menanggung rasa sakit yang luar biasa – sebagaimana laiknya proses persalinan.

Continue reading

Posted in Spirit of Life | Tagged , , , | 3 Comments

tabungan atau asuransi pendidikan?

INI masa-masa orangtua di Indonesia kembali dibetot perhatiannya pada masalah pendidikan. Anak-anak sekolah sebagian tengah menjalani tes kenaikan kelas. Sekolah-sekolah mulai membuka pendaftaran untuk murid baru. Sekolah swasta, bahkan lebih jauh sebelumnya.

 

Continue reading

Posted in Nine to Six | Tagged , , , , | Leave a comment

‘amnesia’ asuransi

(Kolom saya di Majalah INFOBANK edisi 362 – Mei 2009)

PASCA tragedi Situ Gintung – dan tragedi lainnya di Indonesia, perhatian ke industri asuransi selalu saja mengalami peningkatan secara signifikan. Memang tidak sontak membuat semua orang sadar asuransi dan lantas membeli polis. Tapi paling tidak tragedi-tragedi tersebut mendorong keinginan orang untuk mengenal dan memahami apa itu asuransi. Continue reading

Posted in Nine to Six | Tagged , | Leave a comment

ternyata bukan yang terakhir (3)

SEBERAPA menyeramkan sebetulnya meja bedah? Sebagian besar orang yang pernah saya jumpai bergidik jika mendengar atau menyinggung tentang ini. Jangankan terbaring di meja bedah – yang sekelilingnya dipenuhi peralatan yang jika diguratkan ke tubuh nyaris semuanya melukai; kak Ani – kakak saya, bahkan sangat takut pada jarum suntuk. Wajahnya selalu pucat tiap kali dihadapkan pada benda super kecil ramping namun tajam tersebut. Ia akan selalu tawar-menawar dengan dokter untuk sebisanya tidak menggunakan jarum suntik dan menggantinya obat-obatan yang bisa ditelan, jika masih memungkinkan.

Karena itu, saya bersyukur tidak memiliki ketakutan serupa. Saya gak bisa membayangkan terbaring 7 (tujuh) kali di meja bedah, seandainya takut pada jarum suntik. Kini kerap saya berpikir, mungkin saya memang sudah dibekali ‘kekuatan dari sononya’ untuk menjalani suratan saya – karena dari empat putri ibu saya, saya yang paling tidak gentar jika dihadapkan pada segala macam peralatan dokter – bahkan sejak balita. Dulu, saya malah pernah bercita-cita jadi dokter.

Continue reading

Posted in Spirit of Life | Tagged , , , | 8 Comments

klaim kok susah (2)

DI EDISI lalu, sudah saya singgung, bukan konsumen saja yang tidak menyukai klaim bermasalah. Perusahaan asuransi juga, karena menunda klaim justru lebih merugikan ketimbang jika dibayar tepat waktu.

Continue reading

Posted in Nine to Six | Tagged , , , , , , , | 1 Comment

ternyata bukan yang terakhir (2)

ADENOMIOSIS UTERUS. Ini kosa kata baru dalam kehidupan saya. Sebelumnya saya akrab dengan kata tumor mammae, endometriosis, dan mioma uteri. Dibandingkan istilah umum kanker jinak, saya lebih ‘menyukai’ terminologi “endometriosis” dan “adenomiosis” yang digunakan langsung dunia kedokteran ini. Selain spesifik dan memicu keingintahuan, istilah itu juga tidak terdengar ‘menyeramkan’ seperti ketika mendengar  kata ‘kanker’. 

Di tulisan saya sebelumnya, “Cukup, ini yang terakhir!” (http://www.ryanamustamin.com/2008/03/cukup-ini-yang-terakhir/, saya mengupas khusus tentang apa itu endometrisois. Ternyata, adenomisis sebetulnya endometriosis juga. Bedanya, jika endometriosis terdapat di luar rahim/uterus (miometrium) – sehingga disebut endometriosis eksterna atau endometriosis sejati; maka adenomiosis menyerang bagian dalam rahim – sehingga disebut endometriosis interna.

Di luar dua istilah itu, dunia kedokteran mengenal pula istilah “kista endometriosis”  yakni tumor dengan permukaan licin yang pada dinding dalamnya terdapat suatu lapisan sel-sel endometrium dan cairan coklat yang terdiri dari sel-sel endometriosis, eritrosit, hemosiderin, serta sel-sel makrofag berisi hemosiderin (istilah-istilah terakhir yang kedengarannya ribet ini, kalau gak ngerti, tanya ama professor google aja, ya!).

Continue reading

Posted in Spirit of Life | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

ternyata bukan yang terakhir (1)

SEBETULNYA, saya gak pernah berharap akan menuliskan kisah ini. Karena pada catatan sebelumnya, saya sudah berdoa dan berharap, “Cukup, ini yang terakhir!”  (http://www.ryanamustamin.com/2008/03/cukup-ini-yang-terakhir/). Tapi Tuhan ternyata berkehendak lain. Saking cintanya pada saya, Allah kembali menguji saya. Ya, Sabtu 18 April 2009 lalu, saya menjalani tindakan medis operatif untuk ke-4 kalinya di Rumah Sakit YPK Menteng, Jakarta Pusat – yang berarti operasi ke-7 dalam hidup saya (ah, Jaya Suprana kok tega bener gak mencatatkan rekor ini di MURI. Hehe). 

Kalau kemudian saya akhirnya menuliskan juga catatan ini, sedikitnya karena 2 alasan: pertama, untuk dokumentasi pribadi; dan kedua, untuk sharing.

Khusus alasan kedua, saya makin bersemangat menuliskan pengalaman saya, ketika menyadari begitu banyak perempuan yang memiliki nasib seperti saya namun tidak memiliki keberanian untuk menerima kenyataan dan menjalani terapi serupa. Catatan saya sebelumnya, ditanggapi banyak pembaca blog saya, dan ada yang bahkan berkembang manjadi duskusi di jalur privat. Saya akhirnya sangat bersyukur, di balik perjuangan panjang, saya bisa menginspirasi dan membagi kekuatan kepada sejumlah teman dan sahabat untuk mau menerima kondisi mereka sekaligus memiliki keinginan dan ikhtiar melakukan upaya-upaya penyembuhan – dari yang semula ketakutan menghadapi meja bedah, hingga akhirnya mengabarkan bahwa pembedahan berjalan lancar dan kini tengah menjalani kehamilan.

Continue reading

Posted in Spirit of Life | Tagged , , , | 14 Comments

napak tilas

Cerpen Ryana Mustamin

 

 

SEPERTI film yang diputar ulang, kejadian itu selalu berulang: suara benturan keras yang memekakkan telinga, teriakan histeris, percik api, pecahan kaca, bau hangus dan amis, derap kaki berlarian, jeritan tangis, rintihan pilu. Semua berlangsung begitu cepat.

 

Continue reading

Posted in Sihir Kata | Tagged , , , | Leave a comment

tamu di 401, hotel radisson

1.
kukira aku tak perlu tidur sedini ini
secarik memo di sudut bantal tak menyampaikan pesan mimpi
langit petang justru mengirimkan aroma losari
dan nafasmu menguar di sekitarnya
: sungguh engkau kembali di sini, abang?

Continue reading

Posted in Sihir Kata | Tagged , , | 1 Comment

pentas luka

sejarah telah lama dikemas ketika waktu menyelundupkan kesaksian yang luka
seekor kelelawar memandangnya dengan termangu dari jendela masa silam
di langit-langit, usia mewariskan jubah kelabu
panggung menjelma belukar pintalan laba-laba
sekelompok kecoak telah selesai mendirikan rumah terakhir

Continue reading

Posted in Sihir Kata | Tagged , | Leave a comment