Senja Terakhir

Cerpen Ryana Mustamin

Bandara Cengkareng – Jakarta, 22 tahun silam…

Pagi masih serupa pusara waktu. Kedap, dingin, dan ngelangut. Hanya sedikit denyut di depan ruang tunggu keberangkatan: beberapa orang portir yang belum sepenuhnya menghimpun semangat, seorang backpacker yang lelap di bangku panjang, dan sejumlah mobil yang gigil dilindas gerimis.

Masih terlalu dini, memang. Pesawat yang akan membawanyanya, baru akan terbang dua jam ke depan. Tapi ia butuh waktu menyendiri – lepas dari tatapan ayah, ibu dan adiknya. Ia tahu, perjalanan kali ini bukan sesuatu yang mudah. Meski ia seorang traveler sejati sejak di bangku sekolah menengah.

Ia ingat, ini kali pertama ibunya menangis saat melepas keberangkatannya. Tangis – yang ia rasa, sudah mengeram di pelupuk mata lembut itu sejak paruh malam. Sepekan terakhir, rupa yang selalu dikenangnya cantik itu kini tampak demikian rapuh, dan itu membuatnya berkali-kali harus berpaling. Ia tidak boleh ikut cengeng!

“Menangis kadang-kadang dibutuhkan sebagai mekanisme pertahanan mental…,” ia mengenang lamat-lamat nasehat ibunya. “Karena itu, jika merasa ingin menangis, menangislah!”

Tapi ia sudah sampai pada batas sakit. Hatinya kini mengeras, dan itu memicu saraf lakrimalis yang bertugas memproduksi airmatanya tidak bekerja dengan baik.

Lagi pula, apa untungnya menangis terus-menerus? Jika di awal prahara ia masih memelihara isak, itu karena hatinya tidak berwujud batu. Sesuatu yang manusiawi.Tapi tangis tidak akan mengembalikan lelaki yang dicintainya. Fakta itu demikian gamblang: pertunangan mereka batal, lelaki itu jatuh cinta pada perempuan lain. Sosok yang setia merendengi langkahnya dalam empat tahun terakhir ini, telah melukainya sedemikian rupa. Tapi rasanya ia punya pilihan: terus terluka atau membuat pisau yang melukainya itu tumpul. Dan ia memilih yang kedua.

Dan di sinilah ia sekarang. Di pagi bandara yang gemetar dalam gerimis.

Sebulan lalu, sebuah bank di Bangkok mengiriminya tiket untuk menetap di negeri gajah putih itu. Berbekal ijazah perbankan, training international arbitrage di Tat Lee Bank dan Development Bank Singapore, sejumlah pendidikan singkat Treasury Risk Management, dan pengalaman sebagai dealer di sebuah bank sawasta di Jakarta; ia melayangkan lamaran kerja enam bulan lalu dan kini diterima di divisi treasury bank tersebut.

“Ini bukan pelarian ‘kan?” Adik semata wayangnya menatapinya penuh-penuh.

Kalau pun ya, toh ia tidak sedang menyusun rencana menjadi bagian dari pecandu narkoba.

Saat itu usianya baru 27.

Grand Palace – Bangkok, 18 tahun silam…

Hari masih belia. Tapi matahari sudah menyala terang. Dalam sepekan, suhu udara rata-rata bertengger di 38-39 derajat celcius. Meski terik serasa menembus ubun-ubun, ia tetap nekad melintasi gerbang istana raja Thailand, Bhumibol Adulyadej alias Rama IX. Mengikuti arus ribuan pelancong.

Istana raja Thailand atau yang dikenal dengan nama The Grand Palace adalah sebuah komplek istana yang terdiri atas 8 elemen bangunan utama, masing-masing The Royal Monastery of the Emerald Buddha, The Upper Terrace, Subsidiary Buildings, The Galleries, The Prha Maha Monthian Group, The Chakri Group, The Dusit Group dan terakhir The Borom Phinam Mansion. Di bangunan yang disebut terakhir inilah yang menjadi kediaman raja. Area ini tertutup untuk publik. Hanya bisa dilihat dari kejauhan melalui pintu pagar.

Ini pertama kali ia memasuki kawasan istana, tepatnya di lokasi Emeral Buddha, persis ketika masyarakat setempat merayakan hari raya Songkran. Thai New Year ini jatuh pada 13 April setiap tahunnya, namun kantor-kantor libur dari tanggal 12 hingga 14. Pada tahun pertama menetap di Thailand, ia memilih mengubur waktu dengan membaca novel sepanjang hari di pantai Pattaya – 165 kilometer arah timur-tenggara Bangkok. Tapi di tahun kedua; ia terbang jauh ke Athena dan mengikuti walking tour di Acropolis.

“Kapan libur ke Jakarta, kak?” Dari jarak ribuan mil ia mendengar suara adiknya begitu mengharap.

Jakarta? Ia berusaha tidak terlalu memikirkannya. Ia bahkan sibuk membangun labirin – batas antara masa lalu dan kini, dengan semakin rajin mengasah intuisinya di pasar uang dan saham.

Sepekan ini benaknya berisik bukan main. Rally yang terjadi di pasar saham, memberikan sentimen positif bagi perkembangan mata uang bath, dan menjadi salah satu fokus perhatiannya. Dan meskipun faktor-faktor fundamental ekonomi menstimuli, ia tetap lebih mempercayai sejumlah atribut – bahwa penguatan bath karena hasil intervensi pemerintah, bukan akibat mekanisme pasar berjalan benar.

“Kakak masih terluka?” adiknya masih penasaran.

Ia tak mengalihkan perhatian, meski gagang telepon tetap dibiarkan menempel ke telinganya. Bukankah sejauh ini, pasar menanggapi dingin perkembangan positif yang dicapai ekonomi Thailand? Bath masih diperdagangkan dalam kisaran yang sempit….

“Halo, halo… kakak masih mendengar…?”

Ya, apa katanya tadi? Lelaki yang dulu senantiasa membuat dadanya berdenyar itu kini sudah menimang bayi? Tanpa dikehendakinya, bulir embun mencelat di sudut matanya setelah hampir empat tahun mengering. Ah, terkutuklah transaksi derivatif hari itu…

Dirapatkannya topinya. Sementara pengunjung makin memadati Grand Palace. Sebagian ternyata turis lokal. Dalam rangka tahun baru, mereka akan bersembahyang di depan Emerald Buddha yang berada di dalam kompleks istana. Ia pun menurutkan kata hati, menggiring kakinya ke tempat patung Budha. Tapi duh, kenapa justru wajah ibu dan adiknya yang membayang?

“Adikmu sudah nelpon, kan? Ia sudah bicara?” suara wanita yang melahirkannya itu terdengar begitu hati-hati di ujung telepon.

Tak urung ia tetap tercekat. Dicarinya sesuatu di langit-langit kamarnya. Hanya ada sebuah tanda panah berwarna hijau pucat, menunjukkan arah kiblat.

“Jika kamu mengijinkan adikmu, ibu berharap kamu pulang…”

“Saya ijinkan, saya akan pulang…,” sambarnya cepat.

Adiknya akan menikah! Tidak ada alasan untuk tidak hadir. Rasanya, empat tahun waktu yang cukup untuk kembali menemui Jakarta dengan gagah.

Dikerjapkannya mata. Lantas, ia menekur. “Ya Allah, ya Muhammad junjunganku, dengan segenap ketulusan, aku berdoa untuk kebahagiaan adikku …”

Melalui pintu, dilihatnya air menggenang di langit yang terang.

Orchard Road – Singapura, 7 tahun silam…

Berapa kali kakinya melintasi jalan dengan pusat belanja tersibuk di Sangapura itu? Tak terhitung. Ia bukan shopaholic sebenarnya, meski beberapa tahun terakhir ini ia menetap di Hong Kong – pusat belanja nomor wahid di Asia. Tapi setiap kali meeting di kota lain, ia menyempatkan diri berbelanja kebutuhan fashion. Jika tidak, ia baru bisa menambah koleksi busana, sepatu, dan tas pada libur akhir tahun, saat bursa saham di seluruh dunia tutup.

Tapi, ah ya, mengapa Orchard Road kali ini rasanya begitu membingungkan?

“Kita sudah tiga kali keluar-masuk Takashimaya. Kupikir mau ngantri di depan butik LV – seperti orang kaya Jakarta lainnya. Ternyata nggak juga,” sahabatnya yang bermukin di Singapura sejak lulus kuliah mulai menyindir-nyindir. “Sebenarnya kamu mau beli apa sih?”

Ia gamang oleh dua sebab. Pertama, mulai besok, ia akan kembali menjadi warga Jakarta – jujur ia merasa asing. Setelah menetap di Bangkok dan Hong Kong, seorang pemilik bank nasional berhasil membujuknya pulang dengan meminangnya menempati salah satu formasi direktur di perusahaan tersebut. Ia tahu agenda pertemuan bisnisnya makin padat – ia memerlukan berbagai busana di sejumlah kesempatan. Tapi ia ragu apakah di Jakarta nanti masih sempat keluar-masuk butik.

Kegamangan kedua, lebih karena telepon adiknya. “Jingga sudah sepuluh tahun,” adiknya selalu bersemangat melaporkan proses tumbuh-kembang putrinya, meski ia lebih banyak mendengarnya dengan separuh kuping – karena kuping lainnya terbetot ke pekerjaan. “Lusa dia ulang tahun. Jangan lupa beli kado ….”

Dan ia tergeragap. Ia bahkan tidak paham kebutuhan anak usia pra-remaja dan di mana toko yang menjual perlengkapan dimaksud.

“Aku akan menambah koleksi Barbie-nya, akan kutanyakan…”

“Waduh, jangan! Apa gak ada yang lain?” Adiknya menukas cepat. “Jingga sudah malu bermain Barbie…”

“Atau buku-buku cerita? Di sini lumayan banyak. Tapi semuanya berbahasa Inggris…”

“Kakak pikir Jingga hanya paham bahasa Bugis?” Yang terakhir itu adalah bahasa leluhur mereka.

Ia meringis. Dulu, ia mulai belajar bahasa asing saat duduk di bangku SMP.

Karena benaknya buntu, ia akhirnya memilih duduk di sebuah resto cepat saji yang mejanya ditata di ruang terbuka. Ia memilih kursi yang menghadap langsung ke jalan. Di trotoar di sampingnya, berkali-kali serombongan anak-anak remaja melintas. Penampilan mereka serupa: berjalan sambil menikmati musik melalui earphone yang menempel di sepasang telinganya. Apakah Jingga juga akan seperti itu?

“Kapan kamu punya anak?” Sahabatnya, seperti biasa, mengajukan pertanyaan basi. “Benar-benar berniat melajang seumur hidup?”

Ia tersenyum. “Kenapa memangnya?”suaranya seringan kapas. Bertahun-tahun ia membiasakan diri mendengar pertanyaan itu. Awalnya menjengkelkan, lama-lama dia nikmati. Melajang terbukti menyenangkan ‘kan? Tak terbayang repotnya berpindah dari negara satu ke negara lain dengan membawa rombongan keluarga. Apalagi kalau kemudian suaminya juga memiliki karir yang sama gemilangnya.

“Masak sih kamu gak pernah jatuh cinta lagi?”

Kali ini matanya tersenyum sempurna. Ia ingat seseorang, ingat lekuk rupa laki-laki yang pernah mengisi mimpinya. Seorang anak muda bermata runcing dengan rahang yang mengeras jika mengajaknya berdebat. Si mata pisau itu pernah mengusik-ngusik benaknya untuk mencoba mempersetankan logika. Tapi gagal. Tahun demi tahun gugur, tak tercipta romansa di antara mereka, meski ia jatuh hati setengah mati. Ia perempuan rasional. Ia sulit menepis kenyataan: lelaki itu berusia delapan tahun di bawahnya, dan ditakdirkan menjadi stafnya di kantor….

“Aku tidak percaya gak ada cowok yang mau sama kamu!” Perempuan cantik di depannya menatap gemas.

Tapi faktanya, ia sulit menemukan pasangan. Bukan sekadar karena usianya kini kepala empat; tapi karena harinya yang bergerak dari meeting ke meeting, dari kota sibuk ke kota sibuk lainnya.

Mega Kuningan – Jakarta, petang ini…

Jakarta mendadak terasa ngungun. Sepanjang pagi hingga sore, hujan turun. Gedung-gedung jangkung yang biasanya tampak angkuh, kini menggigil. Langit yang biasanya keperakan, berubah pucat kelabu. Sepanjang Casablanca, jalanan memang macet. Tapi dari ketinggian lantai 21, ia hanya menangkap senyap – kendaraan di bawah sana beringsut pelan, tampak seperti kawanan siput. Di pembatas jalan, dedaunan dan pejalan kaki masih bersitahan melawan cuaca, bergetar kuyup.

Ia termangu menyaksikan tempias air – serupa lelehan tangis – yang menempel di kaca jendela. Entah kenapa, lelehan itu mengirim rasa gamang. Mungkin karena ini hari terakhir ia bekerja?

Tidak pada tempatnya ia murung, sebetulnya. Karena ia mengakhiri karir di puncak, sebagai presiden direktur, dengan kinerja yang mengagumkan. Nyaris tanpa cacat. Dalam rapat pemegang saham dua minggu lalu, ia sebetulnya terpilih kembali untuk memimpin perusahaannya. Namun ditolaknya dengan sukacita. Sudah saatnya beristirahat, menikmati jerih payah bertahun-tahun.

Tapi mengapa ia gamang?

Padahal, tak ada yang berbeda hari ini dibanding kemarin. Telepon genggamnya tetap menjerit tak henti-henti. Ia masih rakus menyantap berita ekonomi pagi tadi – menguping kebijakan bank sentral atau memantau pergerakan indeks saham gabungan. Sekretarisnya juga tetap keluar-masuk membawa tumpukan berkas – surat-surat yang akan ditandatanganinya terakhir kali.

Seharian ini, ruangannya bahkan semarak. Nyaris sepanjang waktu ia menerima tamu. Semua ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan salam perpisahan – dari sesama kolega direksi hingga office boy. Mereka tersenyum, bercanda, dan sebagian membaur tawa dengan tangis haru. “Ibu jangan melupakan kami, ya?” Karyawan perempuan mencium pipi dan memeluknya. Ia tahu, ia dicintai staf dan karyawannya.

Kini, suara dan wajah mereka mengendap di dinding kaca. Berbaur dengan suara dan wajah masa lalu. Memanggil-manggil, mengulik-ngulik, membangkitkan apa yang pernah terlelap di sanubarinya.

Rasanya baru kemarin ia memulai karir di dunia perbankan saat patah hati, lalu melarikan diri ke Bangkok, hijrah ke Hong Kong, terbang ke Singapura dan New York – ke kota-kota dengan pasar saham teraktif di dunia; berlari dari satu meeting ke meeting yang lain, jatuh-bangun menghadapi krisis moneter, berkelahi dengan waktu – menghitung dengan cermat detik ke menit, ke jam, ke hari, ke minggu, ke bulan, dan ke tahun….

Dan petang ini, persis di puncak, ia mengakhiri semuanya….

“Pencapaian yang sempurna…,” kata koleganya.

Tapi kenapa seperti ada yang kurang? Kenapa seperti ada yang tidak utuh?

Diingatnya, dari balik pintu, karyawan terakhir – sekretarisnya, baru saja berpamitan pulang. Gadis belia itu meninggalkan sebuah undangan pernikahan berwarna daun di atas meja kerjanya. “Saya pasti sangat kecewa jika ibu tidak datang,” pesannya.

Dan ia tersenyum lunak. Ia pasti datang.

Tapi kenapa hatinya tercekat?

Di langit, sore makin menua. Cahaya terus melinsir, menyisakan lembayung pucat di ujung hari.

Di jendela, ia masih mematung, menyaksikan gedung-gedung jangkung yang tetap berdiri angkuh.

Senja meluruh dalam bisu. Hari tersibuk dalam hidupnya berakhir. Tapi di dadanya, pertempuran kesunyian baru saja dimulai.***

(dimuat di Majalah KARTINI edisi 2265, Maret 2010)

This entry was posted in Sihir Kata and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Senja Terakhir

  1. Bunga says:

    Perjalan hidup yang panjang tapi asik. Membawa khayalan bunga melanglang buana.

  2. terima kasih Bunga, karena sudah membaca cerita ini…

  3. andri markuntoro says:

    Setiap pekerjaan yang kita lakukan jika dikerjakan dengan penuh tanggung jawab dan didikasi yang tinggi merupakan bibit yang engkau tanam sebelum membuahkan hasil yang diharapkan!!! Percayalah. senyum, sapa & kejujuran merupakan bekal Hidup setiap insan tuk meraih kemenangan hati.

  4. andri markuntoro says:

    Ya Tuhan YME, Limpahkanlah rahmat,rizki dan berkah kepada saudariku ini dalam menjalankan pengabdian mulianya dan mudahkanlah dalam memecahkan permasalahan yang sedang dihadapinya.Amin Faidza da’autumkum bil ijabah……

  5. abd naddin says:

    ya,kesunyian kadang-kadang sukar dikalahkan meskipun kita berlari dari satu kesibukan ke satu kesibukan yang lain.Kesunyian sentiasa menerkam dan menangkap kaki kita yang gesit melangkah dalam kehidupan ini.Sebuah cerpen yang menarik. saya suka membacanya.salam dari malaysia

  6. Ana…
    nama yg sejak kecil akrab di benak saya. Melekat memujinya dalam dunia penulisan. Dan semakin melambung pujian saya padanya setelah membongkar dan membaca semua isi blognya ini. Luaaar biasa….! Hebat betul..! (saya berminat mengikuti jejaknya menjinakkan kata, tak pernah sanggup saya)

    Mungklin samar Ana mengingat nama saya (bkn karena “Mustamin”-nya) Kalo tak keliru, terakhir berjumpa puluhan tahun lalu dalam pertemuan kelompok studi di Universitas “45″…

    Saya makin cemburu membaca tulisan2nya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>