(Novelet Remaja) – Oleh Ryana Mustamin
“WHO is there?” Zaza berteriak tertahan.
Tak ada jawaban. Kecuali sisa gema teriakannya yang mendengung. Tak terlalu panjang, namun serupa lolongan, yang kemudian berujung dalam bisu pada detik ke sekian.
Kini kelengangan memerangkapnya. Serupa bayangan raksasa tinggi besar yang merunduk mengembangkan kedua lengannya yang kenyal dan dingin. Lalu merangkulnya kuat-kuat. Membuatnya tersengal, tercekat, sekaligus menggigil.
Dari mana ia berasal? Mungkinkah ia merayap dari ujung selasar yang senyap, atau turun dari langit-langit, dari pintu-pintu gerai yang seluruhnya sudah terkatup rapat, atau jangan-jangan terbangun dari sebuah dunia lain di balik basement, dari tanah yang merekah…
Hampir pukul nol-nol waktu setempat. Pantas aja, Zaza menggumam sekaligus menyalahkan dirinya sendiri. Hari sudah sangat larut. Saatnya makhluk bernama manusia tertidur, dan makhluk lain terjaga. Tempat ini kini menjadi demikian sepi dan sunyi. Serupa makam. Mengapa ia luput memikirkan hal itu sebelumnya?
Dengan rupa kecut Zaza mengedarkan pandang sekali lagi. Lalu dengan sisa tenaga, ia mengayunkan kakinya. Kembali berlari. Ayo Za, lebih cepat dan lebih kencang!
Tapi, suara itu …. Ya, suara detak sepatu di belakangnya yang ikut berlari. Seseorang tengah menguntitnya? Siapa? Seseorang yang berniat jahat kepadanya? Seseorang yang akan melukainya? Atau … memerkosanya? Bulu kuduk Zaza meremang. Matanya memanas.
“Ya Allah, lindungi hamba!” kesahnya lirih.
Zaza kembali berlari. Nafasnya kian memburu. Namun semakin ia merasa berlari kencang, suara detak sepatu di belakangnya juga semakin menderas. Mungkinkah itu gema?
Refleks, Zaza menghentikan larinya.
Tidak. Sama sekali bukan gema. Ritmenya berbeda. Dan sepatu itu terlambat berhenti beberapa detak sesudah kakinya diam sempurna.
“Who is that?” Zaza mengulang pertanyaannya. “Can you hear me?”
Namun tetap tak ada jawaban.
Zaza menunggu dengan tegang. Matanya nyalang. Namun sejauh mata memandang ke belakang, hanya lengang dan lengang. Kesunyian yang menghantu. Saking sunyinya, Zaza rasanya sampai mendengar detak jarum jam tangan dan degup jantungnya.
Dirapatkannya jaketnya untuk melindungi tubuhnya yang kian menggigil. Setelah itu ia menoleh kembali. Kali ini dengan sorot mata yang lebih awas. Dan, Zaza terkesiap! Sekitar seratus meter di depannya, matanya menampak sesosok bayangan tertimpa sinar lampu yang remang. Berlindung di balik tiang.
Tubuh Zaza bergetar. Dadanya gemuruh. Siapa dia? Mau apa dia?
“Ya Allah, please, lindungi hamba!” pekik Zaza di hati.
Ia menarik nafas panjang. Sambil mengucap bismillah, Zaza mengumpulkan keberanian. Detik berikutnya, ia sudah bersijingkat ke arah bayangan itu. Begitu perlahan, berharap gerakannya tak menimbulkan suara dan memancing perhatian. Di dahinya, keringat dingin mulai menetes. Sementara lantai tempat ia berpijak serasa berubah jadi padang salju. Tapi Zaza terus melangkah. Mendadak ia teringat wajah Papa. Ayo Za, jangan mau kalah dengan ketakutanmu. Ini anak Papa yang paling berani …
Hati Zaza menguat lagi. Meski di bagian lain hatinya somplak. Kalau saja ia tak nekad berangkat sendirian ke The Peak. Kalau saja ia tak melamun dan bersedih sehingga lupa waktu. Kalau saja Lala … astaga, apakah ini hukuman karena diam-diam ia berharap Sakti mengkhianati Lala?
***
Gerimis tak singgah di Peak Tower. Ini Februari, musim dingin. Tak ada hujan. Tapi dingin yang menyungkup tak mampu teredam oleh gumpalan woll yang membungkus tubuhnya. Dalam empat hari terakhir, suhu udara Hong Kong selalu di bawah 15 derajat celcius. Membekukan. Ah ya, tak hanya membekukan tubuhnya, tapi juga hatinya. Betapa ia sendirian di sini, di tengah sejumlah turis asing – yang mungkin saja tak berselera mengajaknya sekadar bercakap. Mereka sibuk dengan teleskop masing-masing. Tentu, bentangan lazuardi di depan lensa, lebih menarik ketimbang menghabiskan waktu ngobrol dengan gadis kecil sepertinya.
Tapi Zaza betah berlama-lama di sini, di sky terrace. Menghikmati kesendirian. Meski sore telah meleleh. Meski giginya gemerutuk. Dan angin yang bertiup kencang sekali. Ia bersikukuh bertahan di balkon – entah sudah berapa jam, memperhatikan angin yang menghalau awan ke utara, membentuk koloni. Apakah harapannya juga ikut terhalau seperti awan?
Dikatupkannya bibir lebih rapat. Sambil menyembunyikan kepalan di saku, matanya beralih dari lensa teleskop. Konfigurasi unik di seberang pandangan sudah mulai memburam. Tapi masih hangat di benaknya. Kota yang cantik – dengan ratusan gedung jangkung tumbuh dari tekstur tanah yang berbukit acak. Nun di kejauhan, tampak pelabuhan dengan air kebiruan – lengkap dengan kapal-kapal yang tengah berlabuh dan bongkar-muat, dengan latar perbukitan berwarna lumut. Perpaduan yang sungguh tak lazim.
Kini, dengan mata telanjang, ia memperhatikan langit yang meremang, lalu gedung-gedung, pepohon dan pegunungan yang perlahan membentuk siluet. Bersamaan dengan itu, geriap lampu berhamburan. Seperti ribuan butiran kristal swarovski yang ditebar di atas kain bludru hitam. Meriap berpendar. Saling silau.
Zaza mendecak kagum. Meski kemudian ia merasakan dingin makin mengiris sekujur tubuhnya. Sepasang turis separuh baya di sebelahnya dari tadi bahkan sudah berangkulan rapat. Membuatnya iri. Ah, kalau saja dia ada di sini, dan memperlakukannya seperti itu …
Astaga, Za! Apa yang kamu pikirkan? Mendadak ia jengah sendiri. Tapi bukankah sejak sore tadi ia lebih banyak melamun ketimbang memperhatikan pemandangan yang disodorkan The Peak? Bahkan kalau mau jujur, sejak semalam ia sudah berulangkali memergoki dirinya terperangkap dalam lamunan. Semalam ia ingat, besok atau tepatnya hari ini, 14 Februari. Valentine’s day. Dan entah mengapa, sejak awal ia berharap sesuatu yang istimewa akan terjadi pada dirinya. Sesuatu yang – barangkali – akan mengubah hari-harinya. Sesuatu yang …
Valentine? Aha, sejak kapan ia memikirkan valentine? Empat hari lalu? Atau empat bulan lalu?
Mungkin ini yang namanya senjata makan tuan. Karena dulu, Zaza paling sering meledek sahabat-sahabatnya saat mereka kasak-kusuk menyambut valentine’s day.
“Gak ada hari laen, apa? Emang kalo gak 14 Februari, lo gak cinta ama gebetan lo itu? Gue sih tiap saat punya milyaran cinta untuk semua. Gak harus nunggu sampai Februari. Ambil neh … mmuaahhh … muaaahhh…,” suara mirip kecupan menghambur dari bibir mungilnya.
Lalu, seperti biasa, sahabatnya – Diby, Jihan, dan Wulan – hanya mendelik gemas. Hanya sesaat. Setelah itu mereka ribut lagi membahas mau ngasih kado apa ke cowok masing-masing di hari valentine nanti. Mereka berbincang seolah ia tak ada di antara mereka.
Dicuekin begitu, Zaza gak merasa terabai. Toh sejak awal ia tidak tertarik terlibat dengan hal-hal berbau valentine. Pertama, mungkin karena ia memang belum punya cowok. Tidak seperti ketiga sahabatnya itu – Wulan bahkan sudah bertunangan. Dan kedua, sejarah tentang valentine yang didengarnya simpang siur. Gak melulu positif. Lagipula, bukankah setiap saat seharusnya adalah hari kasih sayang?
Tapi kali ini berbeda. Dan yang membuatnya tergugu, karena ia kini sendirian – jauh dari sahabatnya – namun dengan benak yang dipenuhi pikiran tentang valentine.
Menyadari itu, ada perih yang meleleh dan merambat hingga ke ulu hatinya. Perih yang tak ia ketahui wujudnya. Ia kini semakin yakin, ia tengah jatuh cinta. Dan yang membuatnya ngilu, karena ia merasa jatuh cinta pada orang yang salah. Kenapa harus pada si rambut kriwil itu? Seseorang yang ia tahu begitu istimewa bagi Lala – kakaknya. Apakah ia jatuh cinta hanya sekadar untuk menyemai rasa sakit, kecewa, dan luka?
“Hai Za, mau ke mana?” Di selasar yang menghubungkan Royal Park Hotel dan New Town Plaza, cowok itu menghadangnya sore tadi.
“Saya …,” sosok itu berdiri tepat di depan hidungnya. Membuatnya tergeragap. Ia hampir saja menabraknya.
“Jalan kok melamun!” Mulut dan mata di depannya sama tersenyum.
Zaza gelagapan, separuh jengah. Mendadak, batinnya ribut. Dan ia merutuk dirinya sendiri. Ah, kenapa sih gak bisa bersikap normal di depan dia? Biasa-biasa aja ‘kali Za, gumamnya di hati. Toh, ia bukan sesiapa bagi dirimu.
“Ke mana?” Cowok itu kembali memecah lamunannya.
Dihelanya nafas. “Mau ke The Peak!”
“Sendirian? Sore begini?” Ada kekhawatiran mengalir dalam suara itu.
Zaza mengedikkan bahu. “The Peak justru cantik di waktu malam!” Katanya sok tahu. “Sori Kak, buru-buru nih. Kutinggal, ya!” Diseretnya langkahnya.
“Hei, aku boleh ikut?” Cowok itu merendengi langkahnya.
Mulut Zaza ternganga. Sedetik ia ragu, tapi kemudian ia menggeleng. Ia sedang kecewa. Lagipula, ia ingat, Lala sendirian di kamar hotel. Semalam kakinya terkilir. Dan pagi tadi, setelah semalaman cowok itu membantu mengurutnya, Lala mulai bisa menggerakkan kakinya tanpa harus meringis. Rencananya, sore ini Lala akan mencoba jalan-jalan ke Hong Kong Heritage Museum. Di sana ada kafe dan toko souvenir yang beroperasi dari pukul 10.00 pagi hingga 19.00 malam. Atau, kalau gak, dia bilang akan mengunjungi Snoopy’s World yang ada di lantai 3 New Town Plaza, atau mungkin belanja di Ikea yang hanya selemparan batu dari kamar hotelnya. Lala tentu butuh teman, betapapun dekat tujuannya. Lala tidak biasa berjalan sendirian ke mana-mana, sebagaimana dirinya. Lagipula, masak ia jalan dengan pacar kakaknya, sementara Lala sendirian?
“Maaf, Kak. Kali ini aku mau sendiri aja. Lagi pula, kita udah janji ‘kan, hari keempat, hari bebas! Aku gak percaya kakak gak punya agenda hari ini….”
“Tapi The Peak cukup jauh lho, Za!”
Ah ya, tentu. Ia sudah memelototi peta saat di kamar tadi. Guntingan peta bahkan sudah bertengger di sakunya. Hotel mereka terletak di wilayah Sha Tin, tepatnya di Pak Hok Ting Street. Ia harus menumpang KCR dari stasiun kereta yang ada di basement New Town Plaza, menyeberangi pulau dari New Territories hingga ke pulau Hong Kong, melewati 8 stasiun – termasuk stasiun keberangkatan dan kedatangan, dengan sekali interchange di stasiun Tsim Sha Tsui. Ia nanti harus turun di stasiun Central, dan exit di pintu J2.
“Kata papa, naik kereta api di Hong Kong aman kok. Bahkan sampai kereta terakhir, jam duabelas malam!” ujar Zaza.
“Yakin?”
Zaza mengangguk.
Dan si Kriwil itu akhirnya hanya angkat bahu sembari menggaruk kepalanya.
***
(bersambung)
(Dimuat di Majalah STORY edisi 7 – Januari 2010)