ternyata bukan yang terakhir (3)

SEBERAPA menyeramkan sebetulnya meja bedah? Sebagian besar orang yang pernah saya jumpai bergidik jika mendengar atau menyinggung tentang ini. Jangankan terbaring di meja bedah – yang sekelilingnya dipenuhi peralatan yang jika diguratkan ke tubuh nyaris semuanya melukai; kak Ani – kakak saya, bahkan sangat takut pada jarum suntuk. Wajahnya selalu pucat tiap kali dihadapkan pada benda super kecil ramping namun tajam tersebut. Ia akan selalu tawar-menawar dengan dokter untuk sebisanya tidak menggunakan jarum suntik dan menggantinya obat-obatan yang bisa ditelan, jika masih memungkinkan.

Karena itu, saya bersyukur tidak memiliki ketakutan serupa. Saya gak bisa membayangkan terbaring 7 (tujuh) kali di meja bedah, seandainya takut pada jarum suntik. Kini kerap saya berpikir, mungkin saya memang sudah dibekali ‘kekuatan dari sononya’ untuk menjalani suratan saya – karena dari empat putri ibu saya, saya yang paling tidak gentar jika dihadapkan pada segala macam peralatan dokter – bahkan sejak balita. Dulu, saya malah pernah bercita-cita jadi dokter.

Menurutku, meja bedah sebetulnya tidak seseram yang kita bayangkan. Kalaupun menyeramkan, anda tidak memiliki cukup waktu untuk membayangkan dan menghikmati semua ketakutan anda. Dari pintu ruang operasi hingga Anda dibaringkan di meja bedah dan kemudian mengalami pembiusan, hanya memakan waktu beberapa menit. Mungkin Anda sempat merekam, betapa benderangnya lampu di atas meja bedah, atau betapa dinginnya lantai ruangan akibat pendingin udara yang dipatok pada suhu terendah. Tapi dokter dan paramedic tidak akan membiarkan mata Anda berlama-lama menjelajahi segala macam benda berwarna silver yang mengelilingi meja bedah.

Bahkan ketika mengalami pembiusan lokal pun – seperti operasi ke-5 dan ke-7 yang saya alami, Anda tetap tidak memiliki waktu untuk ‘memanjakan’ mata. Begitu dokter anastesi menyuntikkan obat bius di punggung, hanya dalam hitungan detik bagian bawah tubuh – dari perut hingga ujung kaki, serentak terasa kesemutan untuk kemudian hilang rasa sama sekali.

Dari balik sekat kain yang menghalangi pandangan, dua kali saya tergoda untuk mengintip apa yang dilakukan dokter terhadap perut saya. Tapi dua kali pula, saya tertidur – tepatnya ditidurkan dokter. Saya hanya mendengar lamat-lamat suara dokter dan petugas di awal operasi. Selebihnya adalah tidur yang sepulas-pulasnya.

***

Dalam tujuh kali tidur pulas, hanya sekali saya ‘bermimpi’ – sengaja saya beri tanda petik karena saya sendiri ragu apa itu bisa disebut mimpi. Padahal saya pernah berharap agar diberikan ‘sesuatu’ dalam mimpi – seperti yang kerap saya baca pada kisah-kisah sejati yang kerap dituturkan orang di media massa (mungkin karena berharap, malah gak dikasih, ya? hehe).

‘Mimpi’ itu terjadi pada operasi ke-3 (laparaskopi), tahun 2000, sesaat menjelang siuman. Jika pada operasi lain, kesadaran saya muncul dengan mulai mendengar suara samar-samar (jika pembiusan total), atau melalui belaian di rambut dan tepukan halus di pipi (jika pembiusan lokal), proses siuman di operasi ke-3 itu agak berbeda.

Sebelum diberi kesadaran, saya sempat mengalami ‘peristiwa kecil’ – berada di lorong di mana salah satu ujungnya memancarkan cahaya menyilaukan. Peristiwa itu sesaat sekali. Sebelum sempat melakukan apa-apa, tubuh saya sudah melayang ke ujung yang lain, menjauhi cahaya. Tubuh seperti menggelinding dari tempat tinggi ke tempat rendah, layaknya di perosotan panjang (sliding) yang biasa terdapat di kolam renang. Perasaan saya melayang. Dan begitu tubuh tiba di bawah dan berhenti bergerak, pada saat yang sama kuping saya menangkap suara sayup-sayup.

Orang sering bilang itu ‘alam perbatasan’ – di balik cahaya itu ada dunia lain (yang gak fana). Saya sendiri tidak berani mempersepsikan macam-macam (soalnya belum punya pengalaman ke alam lain sih!), kecuali bahwa itu salah satu bagian dari pengalaman proses mencapai kesadaran.

Apapun, saya tetap dan selalu mensyukuri semua yang pernah dan sedang terjadi dalam hidup saya. Konon, salah satu yang membedakan antara ‘kehidupan’ dan ‘kematian’ adalah semangat dan harapan. Saya selalu berupaya agar tungku semangat saya selalu dan terus menyala. Juga harapan saya. Termasuk, untuk tidak pernah berhenti berdoa dan berharap, “Cukup, ini yang terakhir!” (seperti judul tulisan sebelumnya).

Semoga Allah mendengar doa saya. Amin.*** (Habis)

 

This entry was posted in Spirit of Life and tagged , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to ternyata bukan yang terakhir (3)

  1. ernie says:

    Mbak Ryana,
    Terharu membaca ceritanya…
    Tetap kuat & tetap semangat ya mbak, terima kasih u berbagi cerita ke banyak orang, jumat depan aku mau presentasi ttg endometriosis ‘& teman2nya’, kisah mbak sgt membantu aku u memahami lebih dalam… (krn pusing baca banyak referensi, he..he). GBU

  2. Ashri says:

    Aslmlkm..Subhanallah mbak ryana bwt perjuanganñ..ash jd pgn curhat byk niy mba..tp krn ash bk d hp jdñ t’bts bgt crtñ..InsyaALLAH mba nanti ash crt dr awal pengalaman ash dgn kista ovarium,oia mba add fb ash jg y mba dgn email yg sama.. Ganbatte y mba..

  3. @ernie & ashri: makasih ya perhatiannya. maaf, baru sempat me-reply. oya, silakan add saya di fb, http://www.facebook.com/ana.mustamin/

  4. martini dayanti says:

    Subhanallah…
    Apakah setelah operasi yg ke-7 ( angkat rahim ) masih adakah keluhan lain yang muncul gak mba ?
    Saya rada takut untuk operasi karena ada kemungkinan bisa berkali2 kyk mba ana …..tapi klo tunggu smp monopause jg gak tahan….( sy boleh tanya2 hal ini difacebook gak ?)

  5. samiun says:

    Cerita yang baik sebagai..suatu pelajaran untuk tetap tenang jika suatu waktu..mengharuskan melewati..peristiwa dikamar bedah…!!saluut untuk Mbak Ana.selalu

  6. fatimah manaf says:

    cerita yang memberi inspirasi. Saat ini saya jg mempunyai myoma di rahim (multiple) yg terbesar berdiameter 6 cm, ini yg kedua, yg pertama ketika sy mengandung anak kedua, myoma tsb diangkat sekalian dengan bayi sy. Saat operasi pertama sy tidak merasa taku. Hanya pasrah dalam doa, mungkin semangat sy sebagai ibu membuat sy tidak memikirkan apa2. Sekarang dokter menyarankan agar sy menjalani operasi kembali, tp sy merasa takut dan ragu. Membaca cerita Mbak Ryana sy merasa kuat. Terima kasih ya Mbak

  7. @martini, samiun, fatimah: terima kasih udah mampir ke sini. semoga kisah saya ini ada manfaatnya. salam semangat.

  8. indriani puspitasari n rudyatna says:

    Semoga ini yang terakhir ya mba,gak masuk2 lg kamar operasi.Semoga sehat terus…..Btw pengalaman mba sempat sy alami saat koma 2 minggu,13 thn yll.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>