‘amnesia’ asuransi

(Kolom saya di Majalah INFOBANK edisi 362 – Mei 2009)

PASCA tragedi Situ Gintung – dan tragedi lainnya di Indonesia, perhatian ke industri asuransi selalu saja mengalami peningkatan secara signifikan. Memang tidak sontak membuat semua orang sadar asuransi dan lantas membeli polis. Tapi paling tidak tragedi-tragedi tersebut mendorong keinginan orang untuk mengenal dan memahami apa itu asuransi. Sejumlah teman saya menunjukkan animo dan antusiasme yang cukup ketika saya menjelaskan rupa-rupa asuransi umum/kerugian – mobil, kebakaran, huru-hara, dan lain-lain – pasca kerusuhan Jakarta Mei 1998 silam; atau tentang asuransi bencana alam ketika Aceh baru saja dihantam tsunami. Di saat yang lain, mereka – tanpa protes sedikit pun, mau saja saya giring membeli premi asuransi penerbangan di bandara ketika tragedi kecelakaan pesawat udara begitu tinggi intensitasnya.

Tapi kondisi itu biasanya bersifat sementara. Secara bercanda, seorang teman saya bilang bahwa orang Indonesia itu pengidap ‘amnesia akut’. Ketika almarhum Soeharto baru saja lengser dari kursi kepresidenan, sejumlah besar elemen masyarakat nyaring meneriakkan perlunya pengadilan tindak korupsi kepada penguasa Orde Baru itu. Seiring berjalannya waktu, suara-suara lantang itu melindap – dan kini sekelompok orang bahkan memujanya sebagai pahlawan.

Mungkin lantaran penyakit ‘amnesia’ itu pula, sangat sedikit orang Indonesia menjadi konsumen loyal asuransi – terutama untuk asuransi umum. Teman-teman saya yang dulu mengansuransikan mobil dan rumahnya pasca kerusuhan di Jakarta, hanya sanggup mempertahankan polisnya 2-3 tahun. Memasuki tahun ke-4 dan seterusnya, mereka mulai mikir-mikir untuk memperpanjang polis, atau bahkan menghentikannya sama sekali. “Sayang duitnya,” katanya (padahal, rupiah yang dibelanjakan untuk membeli premi tidak lebih besar dibandingkan dengan ongkos yang dia keluarkan di akhir pekan saat hang-out atau dugem bersama teman-temannya). “Tokh, dalam 2-3 tahun terakhir, gak terjadi apa-apa ‘kan?” sambungnya – yang nyaris membuat saya tersedak (apakah dengan demikian, ia berharap akan terjadi ‘apa-apa’?).

Apa boleh buat, saya harus menyatakan berkali-kali, bahwa asuransi memang bukan barang ‘seksi’. Sebagai alat manajemen risiko, mekanisme asuransi diciptakan memang bukan untuk menutup risiko-risiko yang mungkin timbul atau terjadi dengan tingkat kekerapan yang tinggi. Asuransi umumnya hanya untuk menutup risiko yang jarang terjadi – barangkali hanya akan menimpa kita sekali seumur hidup, atau bahkan tidak pernah sama-sekali. Namun, kendati jarang, risiko itu – jika terjadi – biasanya bersifat fatal dan membawa dampak kerugian yang sangat besar, yang dalam praktiknya sangat sulit ditanggulangi sendiri oleh pemilik peristiwa. Seorang pengusaha garmen yang sangat sukses bisa mendadak papa dan bangkrut dalam sekejap lantaran pabrik tekstilnya dilalap si jago merah. Atau seorang keluarga bisa tiba-tiba jatuh miskin karena sang kepala keluarga yang menjadi pencari nafkah mendadak lumpuh akibat kecelakaan. Berapa kali kemungkinan peristiwa seperti itu menimpa seseorang? Sangat jarang. Tapi bukan berarti tidak mungkin.

Dalam sebuah kelompok atau komunitas, probabilitas terjadinya risiko tetap terentang dari angka 0 hingga 100 per seratus – dan oleh para ahli aktuaria di sejumlah perusahaan asuransi , besaran probabilitas itu bisa dihitung dan diprediksi hingga mendekati kepastian dengan mempelajari pengamalaman atas peristiwa di masa lalu. Para aktuaris ini biasanya mempertimbangkan kelayakan ekonomis, besaran unit pengamatan (yang bersifat massal dan homogen), serta menggunakan metode hukum bilangan besar untuk memperkirakan tingkat risiko pada sekelompok orang . Karena itu, meski kematian seseorang tidak pernah diketahui kapan waktunya, namun para aktuaris bisa menghitung besaran tingkat mortalita sebuah kelompok/masyarakat di mana saya dan Anda menjadi bagian di dalamnya. Karena itu, meski berangkat dari ketidakpastian, asuransi sejatinya menawarkan kepastian.

Jika demikian, mengapa kebutuhan proteksi itu sering tidak terasa atau bahkan terabaikan? Barangkali, karena asuransi hanya menutup risiko dari peristiwa yang jarang terjadi. Tidak mengherankan, kalau kita lantas ‘berjarak’ atau bahkan ‘asing’. Dengan keluarga saja – jika jarang berkunjung atau bertemu – kita sering melupakan mereka, kan?

“Ya, kalau begitu, asuransi meng-cover saja risiko-risiko yang sering menimpa kita. Agar kebutuhan itu terasa,” tukas seorang kawan.

Tentu juga tidak rasional dan fungsional. Anda yang setiap tahun rumahnya kebanjiran, hampir pasti tidak memikirkan perlunya asuransi banjir. Karena peristiwa ini terlalu sering terjadi – setiap tahun, sehingga Anda sendiri sudah sanggup memprediksi segala risikonya – termasuk jumlah dana yang harus Anda cadangkan setiap tahunnya untuk mengganti kerugian akibat banjir tersebut. Ini tentu berbeda dengan mereka yang baru pertama kali disambangi banjir.

Lantas, apakah pelaku industri asuransi harus rajin-rajin berdoa agar tragedi terjadi – sehingga awareness masyarakat meningkat dan permintaan asuransi melonjak? Ide – yang tentu tidak saja konyol, tapi mustahil dilaksanakan. Selain alasan kemanusiaan, setiap kali tragedi menimpa – di mana orang-orang merasakan puncak kebutuhannya terhadap asuransi, maka pada saat yang sama perusahaan asuransi sebetulnya diguncang kecemasan tentang kerugian potensial di depan mata. Bukankah setiap kali terjadi bencana, maka permintaan klaim secara dini pun mengalami lonjakan berlipat-lipat?

Ya, karena itu, ini mungkin saran yang tidak terlalu buruk: ada baiknya Anda tidak ikut-ikutan mengidap ‘amnesia’ asuransi jika Anda tidak ingin risiko tidak terduga membuat Anda menyesal seumur hidup. Meminjam tagline iklan sebuah partai politik, “baik untuk Anda, baik untuk industri asuransi ….”***

This entry was posted in Nine to Six and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>