GA 227, solo – jakarta

GA 227, Solo – Jakarta (1)

mungkin ibu lupa pada adonan tart-nya
hingga kembang gula krim meluber menyegala arah
tapi siapa yang menumpahkan kopi,
hingga dapur di balik jendela meruah jelaga?

GA 227, Solo – Jakarta (2)

gemuruh guruh
melenting riuh
tak jelas benar
di dalam atau di luar
atau justru di bilik dada

GA 227, Solo – Jakarta (3)

suaramu masih kusimpan
sesaat sebelum pintu terkatup
kerap kubayangkan
andai suara itu bersemayam di kabin

GA 227, Solo – Jakarta (4)

“ibu, sakti takut kilat dan petir,” kata anakku
“mari berhitung, sayang!” ajakku

alangkah jauh jarak keduanya
karena hitungan sakti mencapai tujuh

tapi di sini
kami bahkan tak sempat berhitung

GA 227, Solo – Jakarta (5)

mengapa tiba-tiba kurindukan cahaya
ketika kabin diharuskan gulita
gulung gemawan terlampau terjal
hingga pendakian tak ingin usai

: di seberang pandangan, lelaki itu terus saja melafaz doa

This entry was posted in Sihir Kata and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to GA 227, solo – jakarta

  1. I just wanted to say I like your blog, I think it looks great.

  2. @ mas prass,
    pasti lebih merinding lagi kalo dengar kisah lengkapnya. nanti kalo ketemu mas carry, tanyain deh. soalnya kita 1 pesawat.

    @ allison,
    thanks 4 your attention.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>