saya nge-blog karena saya ada

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”

Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir maka saya ada”. Sederhana namun dalam.

Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya ingin terus menulis. Karena dengan menulis, saya meng-ada. Bahkan ketika raga dan pikiran saya sudah tak mampu menulis, suatu saat.

Mungkin Anda menampik: menulis bisa di mana saja, dan kapan saja. Mengapa harus blog? Karena, hemat saya, ini yang terbaik saat ini. Entah nanti – jika hadir medium atau teknologi yang lebih memadai.

Saya merasa mulai bisa merangkai kalimat dengan baik saat duduk di kelas 4 SD. Ketika itu, tulisan saya dimuat di rubrik anak Harian Mimbar Karya – sebuah koran yang terbit di Makassar. Sejak itu, hampir setiap hari saya menulis, di mana saja. Tentang apa saja.

Di bangku SMP, rasa percaya diri saya menguat, saat artikel saya muncul di majalah Hai. Menginjak SMA dan Perguruan Tinggi, tulisan saya sudah muncul di hampir semua majalah remaja yang terbit di Jakarta.

Sejujurnya, saya tidak terlalu peduli dengan penerbitan itu. Teman kelas saya belum tentu tahu saya penulis. Bagi saya, proses menulis itu sendiri, jauh lebih mengasyikkan. Dengan menulis, saya menciptakan ‘dunia’ sendiri, dunia yang ‘otonom’, dunia di mana saya bebas menjadi ‘penguasa’. Tokoh-tokoh cerita jelmaan saya seperti bidak catur, yang nasibnya tergantung saya.

Tapi menulis ternyata juga ‘menggelisahkan’. Semakin kerap saya menulis, otak saya semakin peka terhadap stimuli – dan karenanya semakin cepat penuh. Harus ditumpahkan sebagian. Sayang, tempat dan waktu tidak selalu bisa berkompromi. Semakin dewasa, semakin kerap saya ‘berseberangan’ dengan pengelola media – sesuatu yang tidak pernah terjadi pada otak kanak-kanak saya.

Pengelola media kerap melontarkan kalimat yang tidak terlalu saya sukai, “Judul tulisannya saya ubah, ya?” Atau, “Ada beberapa kalimat yang saya edit”. Sepele. Tapi mengganggu. Ada ‘penguasa’ lain, tampaknya! Dan itu mengusik keasyikan saya. Tulisan, sejak awal, saya perlakukan sebagai sesuatu yang personal, dan karenanya sulit diperdebatkan.

Entah siapa yang lebih dulu tiba: kata atau kalimat kehilangan sihir, atau rutinitas menjebak saya. Atau justru berbarengan. Menjadi orang kantoran yang sibuk membuat saya kehilangan ‘dunia’ yang dulu, kehilangan katarsis. Padahal, kapasitas otak saya nggak nambah. Dan stimuli tidak berkurang. Jadi saya harus tetap menulis, namun dengan cara yang saya inginkan.

Sampai saya berkenalan dengan blog.

Hai, bukankah blog memungkinkan saya tetap bisa menjadi ‘penguasa’ atas tulisan saya? Bukankah medium ini yang bisa membuat saya menulis tanpa ‘campur tangan’ siapa pun? Lebih penting dari itu, bukankah blog yang memungkinkan saya tetap ada karena saya menulis?

Sejumlah peristiwa fisik dan batin saya alami. Puluhan, bahkan mungkin ratusan tulisan pernah merekamnya. Tapi kini hanya sebagian yang bisa saya lacak jejaknya. Media konvensional punya keterbatasan, terutama dalam hal penyimpanan. Dengan blog, saya bisa meninggalkan jejak. Tanpa khawatir arsip saya dilalap rayap. Tulisan pun bisa saya panggil atau baca. Kapan pun, di mana pun. Bahkan oleh orang lain.

Karena itu: mengapa nge-blog? Karena saya menulis. Mengapa menulis? Karena saya ada. Just a simple!

This entry was posted in What's On and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to saya nge-blog karena saya ada

  1. amril says:

    Keep Blogging Kak Ana!

    Nice posting..

  2. Ria says:

    Keep rocking Ibunya Sakti!

  3. Setuju Mba, awalnya memang sulit. tapi lama lama merupakan tantangan, dan bakat menulis memang tidak dimiliki semua orang, dan Alhamdulillah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>