Dongeng Kancil dan Buaya

kita tidak berencana mengekalkan kenangan
dengan menjadi kancil dan buaya dalam dongeng si upik
karena kancil kini tak lagi cerdik
buaya-buaya memangsanya di mall, di kafe, di hotel, di mana saja

“pada suatu hari, ada seekor kancil …”
di sampingnya engkau melata, menjilati tengkuk dan telinganya
dengan bibir yang liar, sepanas nafas demonstran
sementara jemarimu menari di antara irama salsa, wangi bvlgari,
piala anggur, dan sepotong brownis

“kita ciptakan mahkluk baru, berbasis kancil dan buaya …”
janjimu mengusung semangat orasi di depan jelata
seperti semilir AC yang memelihara mimpi agar tetap jaga
di sudut ruang, sepasang boneka barbie gemerisik tawanya

kita tidak berencana mengekalkan kenangan
bukankah si upik lebih mengabadikan donald duck?
“buaya tidak ingin kehilangan kancil …, ” katamu berulang-ulang
juga ketika mencumbu kancil-kancil lain yang tak lagi cerdik
karena selamanya engkau tidak akan pernah bermetamorfosis
bahkan ketika mengenakan topeng kancil pejantan

 

2000

 

 

This entry was posted in Sihir Kata and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Dongeng Kancil dan Buaya

  1. yulia says:

    keren banged mba kata-katanya…
    kena dihati…
    hehhehe…
    jaman sekarang memang banyak buaya-buaya yang berkeliaran dimana-mana…

  2. buaya darat atau buaya sungai? hehehe … yang banyak sih buaya pake dasi. hikkss…

  3. tri says:

    bagus. menurut saya kenapa kancil harus berkeliaran mau dimakan buaya. coba kancil di rumah (dikandang)jadi aman. oke. hanya canda jangan serius yach

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>