(Bagian 1 dari 3 tulisan)
Pengantar:
Selama lima hari, tepatnya 10-14 April 2007, agen pemasaran Bumiputera – perusahaan dimana saya bekerja, melakukan kunjungan wisata di 2 kota di Thailand, yakni Pattaya dan Bangkok. Saya kebetulan ditugaskan manajemen untuk mendampingi mereka. Jejak perjalanan ini saya tuangkan dalam 3 tulisan. Selamat membaca.
MATAHARI belum repih ketika pesawat yang kami tumpangi, Singapore Airlines SQ 976, menjejak landasan bandara internasional Suvarnabhumi (baca: su-wan-na-poom). Jarum jam menunjukkan pukul 15.50 waktu setempat. Nyaris tak sabar, para agen Bumiputera menghambur memasuki garbarata yang menghubungkan pesawat dengan bagian dalam bandara. Sambil mengantri di pemeriksaan imigrasi, bibir tak henti berdecak. Dibandingkan Bandara Soekarno-Hatta, Suvarnabhumi memang ibarat bumi dan langit. Bandara Jakarta terkesan suram dan kotor. Sementara Suvarnabhumi sangat terang dan bersih. Hampir seluruh material bangunannya terbuat dari metal dan kaca, dengan nuansa silver. Sangat futuristik. Menyaksikan gerbang Thailand ini, membuat kita tidak percaya bahwa satu dekade silam, negeri gajah putih ini – seperti halnya Indonesia – pernah dihempaskan oleh krisis moneter yang membuat mata uang mereka terjun bebas di pasar dunia.
Suvarnabhumi memang layak membanggakan masyarakat Thailand. Bandara yang baru dibuka pada 15 September 2006 lalu ini (dibuka untuk penerbangan komersial pada 28 September 2006) dirancang arsitek terkemuka Helmut Jahn of Murphy/Jahn Architects. Dengan luas bangunan 563.000 m2, bandara ini sedikit lebih kecil dibandingkan Hong Kong International Airport yang luasnya mencapai 570.00 m2. Runway-nya sendiri sepanjang 3.700 hingga 4.000 mater dengan menara kontrol setinggi 132.2 meter. Suvarnabhumi terletak di kawasan Racha Thewa, di bagian distrik Bang Phli, Propinsi Samut Prakan, sekitar 25 km arah timur kota Bangkok.
Menyadari bahwa ini adalah salah satu bandara internasional yang menjadi tujuan utama penerbangan komersial internasional di wilayah Asia – menyaingi Tokyo’s Haneda Airport, Beijing Capital International Airport, dan Hong Kong International Airport – para agen Bumiputera memuas-muaskan diri berpose di berbagai sudut bandara. Pokoknya, tidak ada detik yang terbuang percuma. “Gila, bagus banget!” komentar Atty Maryati, salah seorang rekan kerja yang turut menjadi pendamping tur.
Sayang, rombongan tidak bisa berlama-lama di bandara. Setelah mengambil bagasi masing-masing, anggota rombongan yang berjumlah 91 orang – terdiri atas 86 orang agen, agen koordinator, kepala cabang berprestasi, dan 5 orang pendamping (termasuk saya) diminta bergegas menuju bus yang sudah menunggu. Sesuai agenda, perjalanan akan langsung ke Pattaya.
Mirip Kuta
Menurut Pak Citra – salah seorang penduduk asli Thai yang menjadi local guide, cuaca di atas Bangkok tidak terlalu ramah saat ini. Suhu udara berkisar 39 hingga 41 derajat C. “Sedang musim panas,” jelasnya dalam bahasa Indonesia yang fasih. Suhu udara seperti ini biasanya berlangsung dari bulan Maret hingga Mei. Benar saja. Ketika saya mencoba turun dari bus untuk ke restroom saat memasuki pom bensin, hawa panas langsung menyengat membakar kulit. Perih. Di kiri jalan yang dipenuhi sawah dan kebun, memang tampak nyaris semua tumbuhan meranggas.
Keluar dari pom bensin, iring-iringan rombongan Bumiputera terus melaju ke arah timur-tenggara. Pattaya berjarak 165 km dari Bangkok, terletak di Propinsi Chon Buri. Rombongan dibagi atas 3 kelompok: A, B, dan C; menumpang 3 bus dengan masing-masing dipandu seorang tour leader.
Mengamati pemandangan di luar kota Bangkok, serasa tak ada bedanya dengan pemandangan di pedusunan Indonesia. Sawah yang ditanami padi, ladang dengan pohon ketela, dan jajaran pohon kelapa di kejauhan. Thailand memang terkenal sebagai penghasil beras dengan kualitas nomor satu di dunia. Sementara untuk ketela, menurut Pak Citra semata untuk kepentingan industri. “Untuk membuat tepung tapioka. Orang Thailand tidak makan daun singkong,” jelasnya. Wah, agaknya perlu mendirikan warung Padang di sini, biar Pak Citra tahu bagaimana lezatnya gulai daun singkong.
Rombongan Bumiputera memasuki Pattaya ketika senja mulai turun. Sepanjang pantai Pattaya, tersaji pemandangan eksotis yang mengingatkan suasana Kuta di Bali. Air yang meriap mengilau keperakan ditimpa cahaya matahari petang, turis-turis yang berjalan dengan kaki telanjang, para penjual cinderamata yang meriah, gadis-gadis setempat yang bercengkrama dengan pelancong, dan perahu yang mengapung dipermainkan lidah ombak. “Jalan-jalannya juga serupa Bali, tidak terlalu lebar,” komentar Melitza, Kepala Cabang Jakarta Gambir.
Menonton Kabaret
Sebagaimana Bali, Pattaya memang kesohor sebagai salah satu tujuan wisata turis mancanegara, terutama dari Rusia, Eropa Timur, dan Scandinavia. Di musim liburan, mereka tidak segan menghabiskan waktu berhari-hari di pesisir ini. Selain karena pemandangan laut yang indah serta penduduk yang ramah, pemerintah Thailand memang telah menyiapkan Pattaya menjadi sebuah kota wisata dengan pelayanan berstandar internasional. Di tempat ini, menurut salah seorang staf Hotel Siam Bay View – tempat rombongan Bumiputera menginap, tersedia tidak kurang 35.000 kamar hotel berbagai ukuran. Jumlah yang cukup fantastik untuk ukuran daerah sekecil Pattaya.
Dulu, seperti dikisahkan Pak Citra, Pattaya tidak lebih dari sebuah desa nelayan. Semua berubah ketika tentara Amerika yang diterjunkan ke Perang Vietnam membutuhkan tempat untuk relaksasi. Bertahun-tahun di medan perang, pasukan yang bermarkas di U-Tapao, Propinsi Rayong, itu pun tak mampu membendung kebutuhan bilogisnya. Mereka lalu memanfaatkan desa tetangga yang relatif tenang tersebut. Kini, setelah berjuang memulihkan citra dari sekadar ‘kota plesir’ menjadi kota tujuan wisata keluarga, Pattaya belum sepenuhnya terbebas dari citra kota yang mengusung komoditas prostitusi sebagai bagian dari daya tarik wisatawan.
Sejatinya, siapapun yang pernah mengunjungi Pattaya, pasti tahu bahwa kota ini tidak pernah tidur di waktu malam. Kendati secara formal seluruh aktivitas warga berakhir pada pukul 00.00 waktu setempat. Yang paling khas di kehidupan malam ini, tentu saja, aktivitas para penganut trans-seksual alias gay. Mereka beredar di sejumlah nightclub, di belakang panggung pertunjukan kabaret, atau di go-go club. Malam pertama di Pattaya, rombongan agen Bumiputera diberi kesempatan untuk menonton pertunjukan kabaret di Alcazar. Kalau saja tidak ada informasi sebelumnya bahwa para pelakon tari itu terdiri atas para banci, pasti Anda akan tekecoh oleh gemulai dan kemolekan tubuh mereka. Para penari kabaret di Pattaya tak ubahnya penari-penari profesional yang tergabung di Swara Mahardika Indonesia. Cantik, putih, dan seksi. Alamakkk …
Kendati demikian, di mata seorang agen syariah pun, Pattaya tetap sebuah magnet. Setidaknya di mata Madrawan Gustomi. Pensiunan TNI-AU yang memilih menjadi agen Kantor Cabang Jakarta Syariah di masa tuanya itu cukup puas bisa mengunjungi Pattaya. “Saya pernah ke Amerika segala. Tapi belum pernah ke Pattaya. Padahal, lagu Pantai Pattaya sudah saya dengar sejak tahun 70-an,” kisahnya tersenyum. Rasa penasaran Gustomi terjawab sudah. Pantai Pattaya yang indah tidak lagi sekadar didengarnya dari dendang Dara Puspita, tapi telah menjelma menjadi kenyataan rupa. (BERSAMBUNG) ***